Kajian Situs DKP Dilihat Dari Segi HCI #4
Kritikan Situs DKP Dilihat Dari Aspek Usability dan User Experience
Pada tulisan kali ini akan dikritisi tujuh tampilan atau konten dari situs DKP berdasarkan dari aspek usability dan user experince-nya. Yang dianggap mewakili aktivitas yang sering pengguna lakukan dalam mengakses suatu situs, khususnya situs DKP. Ketujuh tampilan tersebut adalah sebagai berikut :
- Search engine
- Bar
- Teks berjalan
- Header
- Footer
- Halaman isi informasi
- Gallery
Search Engine
Dari segi penempatan (menurut penulis) tidak ada masalah ataupun suatu hal yang menjanggal dalam aspek usability maupun user experience-nya, karena penempatan tombol pencarian di sebelah kanan atas telah menjadi hal yang umum dan sering dijumpai, jadi hal ini mampu mengontrol kebiasaan pengguna. Tapi masalah terjadi yaitu pada halaman hasil pencarian. Di antaranya :
1.Langsung terindex pada google
Masalah yang terjadi adalah :
- Tampilan situs DKP menjadi hilang dan tergantikan dengan situs Google.
- Tidak adanya tombol kembali atau back.
- Hasil pencarian tidak full 100% mengarah ke domain www.dkp.go.id , bisa jadi ke subdomain dari situs DKP , seperti www.statistik.dkp.go.id .
Ini berbeda dengan situs DKP yang lama yang memiliki mesin pencari tersendiri.
Solusi :
- Lebih baik hasil pencarian ditempatkan pada tab atau window yang berbeda.
- Lebih baik halaman hasil pencarian disatukan pada halaman web DKP, seperti pada contoh halaman hasil pencarian situs IPB.
2. Kata kunci pada hasil pencarian lebih baik ditampilkan kembali ke tombol input dengan utuh, bukan dalam bentuk kode “google hacking” .
Bar
Seperti pada pembahasan sebelumnya, pembuatan banyak bar-bar adalah salah satu solusi dari situs DKP yang baru terhadap perbaikan pada versi lamanya, yang mana untuk menghindari “pemaksaan penempatan” menu atau konten.
Pada situs yang barunya ini, penumpukan submenu-submenu dalam tiap-tiap menu diatasi dengan cara hide-show , maksudnya submenu bisa ditampilkan dan bisa juga disembunyikan dari masing-masing menu. Umumnya default tampilan awal dari menu yang bisa hide-show adalah hidden (disembunyikan terdahulu).
Masalah yang terjadi (jika dilihat dari user experince-nya) adalah pada gambar tanda “+” pada tiap-tiap head menu pada bar, menjadi rancu, alasannya :
1. Ada menu bar yang dinamis, maksudnya submenunya bisa dimunculkan, dan bisa juga disembunyikan. Sedangkan tanda “+” tidak berubah. Umumnya jika submenu muncul maka head menunya akan bertanda “-”, jika disembunyikan maka bertanda “+”.
2. Ada menu bar yang statis, maksudnya submenunya tetap muncul, tidak bisa disembunyikan. Harusnya gambar tanda “+” dihapuskan, agar pengguna tidak salah kaprah menyangka bahwa menu bar tersebut bisa dimunculkan bisa juga tidak. Terkecuali untuk menu “Login Web Mail” .
3. Tidak ada penanda khusus (selain gambar “+”) yang menandakan head menu pada tiap bar jika diklik bisa muncul aksi, dan bisa juga tidak. Seharusnya hal demikian haruslah ada, salah satu solusinya dengan memberi tanda hover pada saat mouse bergerak ke judul head menu. Alasannya adalah sebagai penjelas bahwa menu tersebut menimbulkan aksi jika diklik.
4. Menu bar “Publikasi DKP” yang disembunyikan, (menurut penulis) lebih baik ditampilkan langsung (statis – submenunya tidak perlu disembunyikan dulu) karena ini semacam promosi dari DKP sendiri, sehingga jika pengguna mengakses situs DKP, pengguna akan melihat langsung promosi dari DKP sendiri itu seperti apa, tanpa harus membuang waktu lagi untuk meng-klik menu “Publikasi DKP”.
Teks berjalan
1. Secara teori, animasi gerak, teks berjalan, dan lain sebagainya digunakan untuk web yang sifatnya presentatif, sedangkan jika dilihat pada situs DKP, situs tersebut bersifat web yang terstruktur. Artinya teks berjalan pada situs DKP bisa mengganggu konsentrasi atau fokus pengguna atau pembaca situs terhadap konten situs DKP.
2. Adanya getaran naik turun pada teks berjalan, sehingga kelihatan mengganggu keseimbangan pembaca situs ataupun tampilam situs.
3. Margin bawah pada teks berjalan yang tidak seimbang jika diukur dari beberapa browser, seperti Mozilla Firefox, Internet Explorer, dan Opera.
4. Padding bawah yang tidak stabil, kadang-kadang teks menghimpit sampai ke perbatasan bawah.
Header
1. Background atau gambar header terlihat pecah-pecah, sepertinya gambar adalah hasil konversi dari format Flash ke GIF, agar animasi gerak pada header (paling kiri) bisa berjalan.
2. Saat resolusi berada di atas 1024px (seperti 1280px atau lebih atas lagi), tampilan halaman menjadi tidak powerfull, terutama pada header.
3. Tautan situs DKP bahasa “English - Indonesia” yang tidak aktif, dan juga adanya kerancuan dari font, warna, dan style tulisan , apakah berupa tautan atau bukan, dan *olala…* ternyata bukan sebuah tautan!
4. Tautan judul header “Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia” dan “Ministry of Marine Affairs and Fisheries Republic of Indonesia” sama-sama mengarah ke situs DKP bahasa Indonesia. Seharusya dari dua tautan tersebut ikut berperan aktif menentukan ke arah bahasa mana dari situs DKP yang diinginkan oleh pengguna.
Footer
Jika pengguna tidak teliti, maka pengguna tidak akan menyadari bahwa ada tautan “RSS Feed”. Harusnya ditempatkan di bagian kiri atau kanan footer dengan ukuran tulisan yang lebih besar dari tulisan di tengah footer, dan disertai logo RSS, seperti penempatan RSS pada umumnya.
Halaman Isi Informasi
1. Sub judul yang berada di bawah judul isi halaman, ukurannya terlalu kecil dan warna tulisan yang hampir selaras dengan warna background sehingga menjadi sulit untuk melihatnya.
2. Warna tulisan yang hitam keabuan-abuan yang bagi pengguna di atas 35 tahun ke atas, menjadi kesulitan untuk membaca. Sebaiknya warna tulisan adalah hitam atau yang lebih kontras dengan warna background.
3. Penempatan “modul print” yang berada di bawah kanan isi bacaan, (menurut penulis) lebih baik ditempatkan di kanan atas bacaan atau kiri bawah bacaan. (Perbandingan dengan format CMS Joomla dan www.antara.co.id) .
4. Menu paging pada akhir daftar halaman isi, kata-kata “first” dan “last” hendaknya disesuaikan dengan tampilan situs DKP sesuai bahasa yang diinginkan pengguna, jika bahasa Indonesia maka disesuaikan dengan bahasa Indonesia, begitu juga untuk bahasa Inggris. Untuk saat ini masih baku memakai kata “First” dan “Last”.
Gallery
Tulisan deskripsi terlalu kecil dan warna tulisan yang selaras dengan warna background sehingga kelihatan susah dibaca.
Salah satu solusinya adalah menempatkan deskripsi tiap-tiap album di bawah photo-photo tiap album (bukan di bawah judul album). Dengan ukuran, jenis, dan warna tulisan yang disesuaikan dengan target penguna yang dituju oleh situs DKP.
Efek light-box pada saat menampilkan photo satu p
er satu. Mungkin menimbulkan kesan user experience yang baru bagi pengguna dan indah, serta jika dilihat dari tampilan juga bagus. Masalah yang terjadi adalah pada target penggunanya yang berasal dari pegawai kepemerintahan daerah.
Efek light-box adalah salah satu metode Ajax, dimana pada ajax kebutuhan akses internet yang kuat, stabil, dan cepat merupakan syarat utama. Kenyataannya adalah tidak semua pegawai kepemerintahan yang ada di daerah-daerah mempunyai akses internet yang diharapkan tadi, sehingga bisa jadi saat pengguna mencoba menampilkan photo pada gallery hasil loading akan lama atau tidak menampilkan apapun.
Pada penulisan kali ini, penulis tidak menganjurkan agar efek light-box dihilangkan, tetapi sebisa mungkin mampu meminimalisir proses loading yang lama saat menampilkan photo. Melihat tidak semua akses internet yang baik dan merata di tiap-tiap daerah. Mungkin salah satu solusinya adalah memperkecil ukuran photo sehingga ukuran kapasitas photo menjadi kecil dan mampu mengurangi bandwidth menjadi lebih sedikit.
Bersambung ke Beberapa Hal Lainnya …






















:: Kohaci Com :: » Kajian Situs DKP Dilihat Dari Segi HCI #3 said,
June 16, 2008 at 9:19 am
[...] Bersambung ke Kritikan Situs DKP Dilihat Dari Aspek Usability dan User Experience … [...]