Jarak telapak tanganku denganmu hanya setipis kertas tetapi setipis kertas itu malah menjadi tembok berlin bagi kita berdua.

***

Mungkin itulah yang sering terjadi dalam diriku sebagai sesuatu anugerah dan aku mensyukurinya. Seperti yang kuungkapkan barusan, aku hanyalah topeng bandit yang berangan untuk membuka semua topengku yang tanpa sadar akan menjadi aib bagiku.

Kalau dikatakan sudah berapa banyak aku dibayangi oleh perasaan akan cinta terhadap wanita, mungkin jawabannya tidak terhingga. Mulai dari A – Z pernah bermakam di hatiku.

Aku lebih suka memendam rasa cintaku dalam hati sebagai “beban abstrak” daripada aku lepaskan dari hati ke hati yang malah akan menjadi “beban konkrit”.

Sudah menjadi tradisi untuk harapkan dan cepat lepaskan. Aku tidak suka keterikatan. Aku menganggap rasa cinta itu hanya sebagai penyemangat untuk pergi ke sekolah, itu saja kok! Nggak Lebih!

Dulu pujangga besar asal Inggris William Shakespeare mengatakan bahwa : “Love looks not with the eyes but with the mind”. Apa betul? Bagi orang yang selalu menggunakan perasaannya untuk memilih sesuatu tindakan maka pernyataan itu akan ia jawab sekeras-kerasnya dengan betul dan tiada salah. Tetapi bagiku cinta terhadap seseorang wanita adalah setumpuk kesengsaraan yang mengakibatkan kita terhanyut dalam perasaan. Dari 100 manusia maka akan ada 100 cinta yang berbeda-beda yang mana memiliki isi yang berbeda-beda tetapi satu tekad akan cinta yaitu kebahagiaan. Tetapi hidup dalam itu semua akan membuat penderitaan karena semakin kuat prinsipnya untk menahan hakikat cinta semakin banyak aturan nilai dan norma yang ia langgar sehingga mengakibatkan keterasingan ia dalam hidup, dalam arti lain membuat dirinya secara tidak resmi dikarantinakan sehingga terjauh dari kehidupan yang sebenarnya harus ia hadapi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu itu pakailah dengan akal dan pikiran kita dan berpikirlah jauh ke depan demi semua dan terutama diri kita agar tidak rugi kelak. Jangan hanya karena ingin mempertahankan kecintaan kita pada seorang wanita kita menjadi egois dan mencampuradukkan semua masalah kehidupan kita dengan cinta kita, bodoh!

Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa cinta itu ada 4 jenis :

  1. Cinta tanpa nafsu, itulah cinta malaikat
  2. Nafsu tanpa cinta, itulah cinta binatang
  3. Cinta karena kebiasaan, itulah nafsu
  4. Cinta abadi, itulah yang didambakan setiap insane.

Dan ditambahkan lagi dengan : Berada dalam jenis cinta yang manakah kita? Moga-moga saja cinta yang kita ukir dalam kehidupan yang indah dan hanya sekali ini adalah cinta abadi yang didambakan setiapa insan _ itulah cinta puncak.

Romantis bukan? Itulah Kahlil Gibran pengagum cinta yang dalam kehidupannya sendiri penuh dalam kesendirian dan boleh dikatakan aneh apalagi bagi mereka yang awam tentang pujangga bermasalah ini. Kalau mengetahui betul riwayat hidupnya maka acungkanlah jempol ke bawah.

Aku tidak tahu mengapa tetapi bagiku aku tidak sependapat. Sebab cinta yang ia ungkapkan di sini adalah cinta di antara dua jenis umat manusia (antara ia dan Selma-nya). Sebagai manusia yang memiliki hati, apakah mungkin di dalam satu hati memiliki dua cinta yang begitu teramat istimewa? Salah satunya pasti menolak dan yang bertahan hanya dan pantas satu, yaitu cinta kita kepada Allah Sang Khalik dan itu telah menjadi cakupan semua kehidupan kita tentang hakikat cinta.

Catatan :

Tulisan ini ditulis sekitar tahun 2003 atau 2004, antara dua itulah, lupa .. ;p , yang jelas diketik pada komputer pertama gw saat masih SMA.

Tulisan ini telah ditelah dipublish di beberapa blog gw sebelumnya, yaitu blog nagasakti dan blogspot. * kalo ga salah *

Inspirasi pada tulisan ini adalah kesukaan gw (waktu SMP dan SMA) pada bacaan sastra lama Indonesia dan sastra Timur Tengah serta beberapa buku yang membahas tentang kaum sufi, dan tulisan ini adalah salah satu bentuk kritisi gw dari yang pernah gw baca, plus dikaitkan dengan pengalaman … pastinya :D

Referensi lain adalah artikel dari EraMuslim.Com, diary kakak gw yang ga sengaja gw baca :D , komik Samurai-X terutama tentang kata-kata ‘setipis kertas‘ , dan lain-lain yang tidak gw sebutkan.