Aku Berjalan Pagi Sekali
Aku berjalan pagi sekali, terlalu pagi hingga bila ditanya apa yang kulakukan pada saat itu maka akan kujawab: “Tidak ada!”.
Hatiku resah, pikiranku melayang, jiwaku gundah sehingga aku merasa hampa untuk melakukan sesuatu apapun. Aku tidak tahu apa dan bagaimana aku ini, dulu dan sekarang telah mengubah semua hidupku, penyesalan menjadi sebuah permainan hidup, tertekan akan beban menjadi sebuah suratan takdir dan keputusasaan menjadi sebuah bahan tertawaan. Cita dan cinta telah tidak saling menyatu lagi, semangat hanya menjadi sebuah permusuhan hidup. Ketidakadilan telah menjadi tradisi. Semua, telah berubah dan sebagai kata-kata penghibur adalah : “Jangan terlalu berharap!”.
* * *
2002 telah berlalu dan 2003 datang sebagai penggantinya. Penyesalan sebagai yang hidup tidak kurasakan walaupun sering kuucapkan. Untuk 2003 dengarkanlah sebagai tanda aku tidak perlu lebih baik dari sekarang ataupun dulu, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Hidup memaki jerit mengaih, kayuhkan letih tanamkan perih, benih pekik semakin pedih, harapan memanggil : Jangan sedih!
Aku tidak perlu tahu mengapa aku begini, yang penting aku merasa bangga akan kesendirianku yang menjadikan khayalan adalah teman, dingin menusuk batin kepedihan, tangan tetap dua, jumlah jari tetap lima, menitik itulah adanya. Dan aku tidak ragu untuk itu yang walaupun tugasku hanya santai-santai saja yang menjadikan impian adalah tidur, bagai ayam tak teteskan telur, kaki masih menginjak bumi, tapi semangat tidak berapi, yang terlintas hanya satu : Tunggu apa lagi: Mati!!
“Mati”, itulah yang ditakutkan oleh kalangan manusia maupun makhluk lainnya sebagai musuh besar yang pasti akan datang dan sebagai penutup dari musuh-musuh sebelumnya, yaitu ketakutan, minder, dan kekuasaan. Dan semua itu hanya dapat dilawan dengan keberanian, percaya diri, dan keikhlasan.
Berani bukan berarti nekad, percaya diri bukan berarti agresif, dan ikhlas bukan berarti riya.
Layaknya seorang pemuda yang masih labil, aku masih tetap satu tujuan dengan mereka yang seangkatanku. Yang sama denganku adalah: aku adalah seorang yang sedang mencari jati diri, kubercermin di sekitarku, yang mana yang pas, tapi itu semua tidak berarti bagiku karena aku adalah aku!
Dulu aku menganggap aku adalah lama dan sekarang, yang membuatku terjerumus ke dalam kesesatan, akan kuhina sehina mungkin setan yang maniak agama selain agamaku!!! Dan akhirnya aku ketahui itu keliru!
Dari sini aku tahu sedikit tentang kepribadian, yaitu diri sendiri yang tidak bisa dinilai oleh orang lain dan bukan untuk menjadi orang lain.
* * *
Catatan :
Tulisan ini dirilis sekitar awal-awal tahun 2003. Setahun setelah Brasil menekuk Jerman 2-0 di ajang Piala Dunia, dan Ronaldo mengkhianati Inter Milan ..
![]()
Inspirasi dari perilaku teman gw waktu SMP , Ari, yang suka nongol di lapangan tengah kota pukul empat pagi. Hayoo, ngapain coba
![]()
Tulisan ini merupakan kumpulan dari puisi-puisi karya gw … ciileh .. Untuk lebih jelas, silakan perhatikan kata-kata atau kalimat-kalimat bergaris miring (ga semuanya ya …). Nih gara-gara film AADC sich …
* pecahkan saja piringnya .. * Lho ?
Referensi lain : kumpulan puisi Chaerul Anwar dan cerita Robohnya Surau Kami oleh AA Navis.
Pernah juga dipublish di blog gw yang lain di nagasakti dan blogspot.