Rekan Kerja
Telah lebih dari satu tahun gw menggeluti dunia program-memprogram, lebih tepatnya dalam dunia IT profesional “yang membutekkan kepala”. Lumayan asam manisnya gw rasakan (dan sampai sekarang). Dari pekerja bebas yang saking bebasnya bikin gw mutar-mutar kepala dan tubuh untuk mencari klien yang memerlukan jasa gw hingga pekerja “setengah bebas” yang “cuma” nunggu panggilan, kalo ada … begadang, kalo ga ada … nganggur.
Dari klien yang blak-blakan hingga klien yang misterius. Dari tim yang solid hingga tim yang nauzubillah. Dari proyek yang gagal sampai proyek yang sukses. Yah.. , beberapa uraian di atas sebagian besar cukup gw rasakan dalam asam manisnya Dian Sastro bidang pekerjaan yang gw geluti tersebut , ..
Pada tulisan kali ini, gw ingin membahas sedikit dengan tim kerja.
Selama ini, gw ga pernah ngerjain proyek sendiri, biasanya dalam tim, minimal 2 orang maksimal 7 orang sepengalaman gw sampai saat ini. Karena sedikit, sistemnya SDLC.. iteratif terus menerus, baru-baru ini gw dan tim coba menerapkan sistem XP (Extreme Programming) , yang salah satu syaratnya adalah : tidak takut merubah koding secara total ! Haha.. jangan sampai terjadi dech …
Tiap pekerjaan biasanya tim gw gant-ganti, sehingga jika masuk pekerjaan baru, tidak hanya menganalis sistem yang akan dibuat aja, tapi juga menganalis watak masing-masing tim. Banyak macam-macamnya dech …
Pandangan subjektif gw terhadap diri gw dalam tim adalah gw memahami posisi gw dalam tim. Jika tugas gw hanya koding, maka gw akan koding, ga perlu ikut-ikutan ketemu klien, presentasi ke klien, analasis database-nya, analasis class diagram, setting server, dan bla-bla .. kalo itu bukan tugas gw ga akan ikut. Gw hanya nurut aja dan mulai koding sesuai dengan hasil analisis. Toh juga .. programmer ga akan pernah disalahkan .. hehe2x ..
Tapi jika posisi gw berada dikit di atas “koding”, dan biasanya jadi project engineer, sikap profesional tentu utama. Dan biasanya gw “agak galak” .. * peace *
.Terkadang yang sering jadi masalah adalah mengawasi rekan-rekan kerja yang lain, memberikan task-task yang sesuai dengan kemampuan mereka. Kepercayaan adalah salah satu masalah yang sering gw temui.
Gw kasih task 1 ke orang A, hasil analisis seperti ini, dan harapannya tentu aja sesuai analisis dan sesuai dengan tenggat waktu yang diharapkan. Kenyataan yang terjadi adalah waktu molor karena A belum selesai juga dengan tugasnya. Dan waktu si A pun selesai, walaupun hasil output yang dikeluarkan sesuai dengan permintaan, tapi dari struktur kodingnya tidak sesuai dengan hasil analisis. Dan ketika dicoba-coba dihack ternyata banyak sekali bug-nya, padahal untuk satu proses ada lebih 20 file yang dipakai, masing-masing file di atas 200 baris. Tasknya adalah menampilkan report dari data A, B, C, dst. Format repotrnya sama, di database data A, B, C, dst. tergabung dalam satu tabel fakta. Yang dilakukan A adalah memisahkan tiap-tiap proses untuk menampilakn report A, B, C, dst. File 1 untuk menampilkan report A, file report B, dan seterusnya. Bayangin kalo nambah data baru, nambah 1 file lagi donk. Ya jelaslah ga efektif, logikanya aja kalo udah dalam format report yang sama yang mana diambil dalam tabel yang sama di database, 1 file aja cukup untuk mengekseskusi semua proses report, dan ga akan sampai 200 baris.
Kejadian seperti itu akhirnya gw yang ngehandle dan perbaiki. Pusing… serasa pekerjaan numpuk ke gw .
Pernah mengalami salah satu anggota tim yang tiba-tiba hilang begitu aja ga ada kabar (alias melarikan diri), padahal ada task penting yang diserahkan ke dia. Ini ga mau lagi gw basa-basi, tasknya gw yang ngehandle, berikut wage-nya.
Pernah juga memberi task yang ringan ke salah satu anggota tim. Membuat buku tamu dengan salah satu framework yang kami pakai. Gw tahu dia masih newbie dengan framework tersebut, karena itu untuk sementara gw kasih tugas ringan aja membuat buku tamu. Ga perlu pakai Captcha, akismet, atau apalah, lupakan dulu keamanannya, intinya ada operasi CRUD, serta menerapkan MVC dan Active Record Pattern. Gila, sampai satu minggu lebih belum kelar-kelar juga. Padahal udah beberapa kali gw tanya : “Ada masalah?” dia mah diam aja .. Gw juga jadi bingung, * mo ngebantuin apa ama anak satu ini * … Padahal kalo gw bikin, ga sampai setengah jam jadi. Apalagi kalo pakai RoR (Ruby on Rails), cuma 5 detik ! Ampun dah ..
Pernah juga ngalamin rekan tim yang sangat pintar, dan gw akui dia emang master. Tapi satu hal yang bikin rese, keras kepala ! Sepandai-pandainya tupai melompat pasti ada juga masanya dia jatuh dalam lompatannya. Seperti juga teman gw satu ini (anggap aja namanya B). Dari awal gw dan teman yang lain udah tahu bahwa ada kejanggalan di sistem yang dia buat. Kami diam aja, karena mengira dia pasti punya alasan mengapa sistemnya seperti itu. Orangnya pintar sich, ntar kita yang terperosok lagi ama jawabannya (Dan satu lagi : orangnya suka berdebat!). Nah pas ma kliennya, ternyata kliennya satu pemikiran bahwa ada kejanggalan pada sistem dan minta direvisi lagi. Dan saat gw sampaikan ke B tentang keluhan klien, si B marah gitu ke gw .. pakai ngomong kalo si klien itu yang salah dan bla-bla … “Seharusnya sistem ini ya.. seperti ini .. bukan yang seperti dia (klien) omongin ke lu!” . Dalam hati gw ngomong, yang klien itu sebenarnya siapa sich ???
Berunding… Gw pertemukan B dengan klien dan … olala… B tetap bersikukuh ama sistem yang dia buat. Finally… MISSION FAILED !! Proyek Gagal !
Tim yang ideal menurut gw, adalah tim yang idealis dan inovatif tapi tetap profesional, yang mana untuk tetap exist ke jalur profesional ego pribadi haruslah dibuang , dan yang ditanamkan adalah ego tim.
Dalam memupuk kerja sama tim yang paling susah bukanlah di bidang software engineering-nya, melainkan social engineering-nya. Tahap analisis, desain, hingga implementasi semuanya telah ada prosedurnya, tapi sikap kebersamaan, penghargaan, dan sosial ga ada sama sekali prosedurnya.
Jangan hanya berani merubah koding, tapi juga berani dalam bertanya, berani mengaku salah, dan berani bersikap dalam kebersamaan.
Sorry, kalo ada yang merasa tersinggung dengan tulisan ini. CMIIW ..
eenx
said,
July 22, 2008 at 9:24 am
Panjaaaang juga ceritanya, tapi asyik bacanya
cira
said,
July 23, 2008 at 12:53 am
ooo, gitu ya… maaf ya freddy kalo aku nggak profesional.
btw, tulisannya bermanfaat banget buat kerja tim PKL kali ini
fR3dDy
said,
July 23, 2008 at 3:09 am
@eenx : Thanx ..
@cira : maaf untuk apa, cir ? . btw, thanx kalo tulisan ini bermanfaat ..
rafdi
said,
July 25, 2008 at 2:50 pm
belum pernah kerja beneran dalem tim gwa…
baru tahu ada kayak ginian..
gitu ya, susah juga yah ngatur2 orang gitu, pinter tapi rese atau ga pinter tapi diem aja….
mending gwa brarti..
ga pinter tapi sok pinter, hwawawhahahaha
nurussadad
said,
August 9, 2008 at 4:54 am
@ eenx : Setuju klo yang ini memang panjang….. Susah juga ya.. klo kerja beneran….
Ivan
said,
August 12, 2008 at 3:52 pm
Betul, Tidak cuman IQ yang penting, tapi juga EQ. Mendingan kerjasama ama orang yg average, daripada ama org super pinter yang sulit komunikasi.
Nice sharing ..