I come bearing an olive branch in one hand, and the freedom fighter’s gun in the other. Do not let the olive branch fall from my hand. (Yasser Arafat)
Agama dan kekuasaan adalah sepasang anak kembar. Dimana agama adalah berharga, dan kekuasaan adalah penjaganya. Akal dan tuntunan syariat telah membuktikan bahwa manusia memang harus mengangkat para penguasa untuk menghukum orang-orang yang zalim atas kezaliman yang mereka lakukan, melindungi orang-orang yang lemah dari kejahatan mereka yang lebih kuat, dan menghentikan kebusukan yang dilakukan oleh para penjahat.
Ketahulah bahwa keadaan manusia selalu sepadan dengan budi pekerti para penguasa, karena Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahwa ada dua hal dalam kehidupan manusia yang jika keduanya baik, maka baiklah semua manusia, dan jika keduanya rusak, maka rusaklah semua manusia, kedua hal itu adalah ulama dan para pemimpin.
Ada orang bijak yang berkata bahwa di dunia ada tiga macam raja : raja yang taat, raja yang menjauhi hal-hal yang diharamkan, dan raja yang tunduk pada hawa nafsu.
Seorang raja yang taat akan selalu memerintahkan para rakyatnya untuk tunduk kepada ajaran agama yang mereka anut. Raja yang seperti ini haruslah seseorang yang paling taat di antara manusia, karena dialah yang akan menjadi panutan bagi semua orang yang dipimpinnya. Raja seperti ini juga akan selalu memerintahkan rakyatnya untuk tunduk pada perintahnya sepanjang perintah itu sejalan dengan ajaran agama yang benar. Raja yang taat memiliki satu kekurangan, yaitu akan selalu membiarkan hal-ha yang seharusnya tidak boleh terjadi karena menganggapnya sebagai takdir Tuhan.
Adapun raja yang menjauhi hal-hal yang diharamkan, akan selalu melaksanakan semua ibadah dan amalan duniawi yang menjadi kewajibannya. Dia juga akan memerintahkan seluruh rakyatnya untuk selalu mengikuti syariat serta menjaga martabat kemanusiaan. Raja seperti ini akan menjadi raja yang mampu berperan sebagai pena dan pedang sekaligus, karena barangsiapa yang menyimpang dari apa yang telah digariskan olehnya akan langsung dia tebas. Dengan pedanglah raja seperti ini akan menegakkan pemerintahannya demi tegaknya nilai-nilai keadilan muka bumi.
Sedangkan raja yang tunduk kepada hawa nafsu adalah seorang raja yang tidak pernah memiliki perhatian terhadap hal lain selain usaha untuk memperturutkan nafsunya semata. Dia tidak pernah takut kepada Zat Yang Menguasai dirinya. Dan dia hanya akan memerosokkan kerajaan yang dipimpinnya ke dalam jurang kehancuran di dunia dan akhirat.
Para bijak bestari telah menyatakan bahwa seorang raja harus selalu sadar bahwa dirinya akan tetap membutuhkan rakyatnya, sebagaimana rakyat juga membutuhkan dirinya. Oleh sebab itu, seorang raja harus memahami perbedaan pendapat yang terjadi antara rakyatnya, sehingga ia dapat mempertemukan perbedaan itu.
Sumber :
Buku Hikayat 1001 Malam : Kisah Raja Umar Nu’man dan Kedua Putranya, Syarkan dan Dhau’ Makan.
| View Comments |

