Suster Keramas
Suster Keramas

Baru beberapa bulan silam, Indonesia sempat dihebohkan dengan rencana Maxima Pictures untuk memakai jasa super star “glodok” Maria Ozawa aka Miyabi di film yang diberi judul Menculik Miyabi. Ada yang pro dan pasti ada yang kontra. Film tersebut akhirnya batal, karena banyak ormas-ormas menolak kedatangan sang porn star tersebut. Penolakan yang sempat membuatin si dara cantik ini stress .. :onion-05:

Selang beberapa bulan kemudian, muncullah film horror (tema film yang indonesia banget) yang cukup kontroversial karena ada aksi berani dari Tamara Bleszynski yang berjudul Air Terjun Pengantin. Gw sendiri belum nonton, jadi gw gak tahu “aksi berani”nya kayak gimana .. tapi walaupun cukup kontroversial tapi tidak seheboh dengan rencana kedatangan Miyabi dan tidak mengalami pencekalan di bioskop-bioskop Indonesia. Untuk review film Air Terjun Pengantin silakan tanya Om Google , banyak kok … :onion-11:

Nah, di akhir penghujung 2009, Indonesia dihebohkan lagi dengan sebuah film. Lagi-lagi produksi Maxima Pictures, dan belajar dari pengalaman terhadap Miyabi, Maxima sepertinya tidak mau kecolongan lagi, mereka memproduksi film dulu baru mengumumkan siapa pemeran dalam film tersebut.

T : Film apakah itu?

J : Suster Keramas

T : Kok heboh ?

J : Karena yang main bintang porno Jepang.

T : APAAAAAAA!!@@??? Siapa ? Miyabi-kah ? :pupi:

J : … Bukan! Rin Sakuragi .

T : Rin Sakuragi ? Siapa tuh? Nggak kenal?

J : Dengar-dengar di Jepang dia lebih terkenal daripada Miyabi. Nih trailernya .. link

T : (siap-siap ke TKP ) .. :tkp2:

Pertanyaan klasik dari industri film Indonesia : Apakah sineas muda indonesia cuma bisa bikin film komedi, komedi “porno”, horror, dan horror “porno”?

Padahal kalau melihat rank film dengan jumlah penonton terbanyak, tiga terbesar bukan bergenre di atas (Ketika Cinta Bertasbih, Garuda Di Dadaku, dan Merah Putih) . Jadi apa ini tuntutan konsumen film Indonesia. Gw pikir bukan, merekanya aja yang kurang kreatif!

Gw catet di tahun 2009, hanya segelintir film yang bagus di Indonesia, selain tiga film yang disebut di atas adalah Sang Pemimpi, Merantau dan King. Film terbaik FFI , Identitas, gw anggap gagal, karena promosi yang kurang sehingga terkesan “gak niat” , cuma untuk film festival bukan film untuk rakyat.

Melihat geliat sineas film Indonesia, dimana produksi film menjamur, ditambah lagi dengan disahkan UU perfilman yang baru , yang membatasi film-film impor membuat industri film Indonesia “seharusnya” semakin bergairah. (walaupun banyak yang menentang UU ini – termasuk gw – :onion-60: )

Tapi kalau gak ada kreatifitas sama sekali, sama aja bohong. Lama-kelamaan bukan gak mungkin karena tumpulnya kreatifitas produsen-produsen film secara terang-terangan membuat film porno , dengan alasan kebebasan berkreasi demi menutupi kekurangan “gak ada inovasi” .

Ayo maju terus, sineas muda Indonesia, bikin film yang bermutu bibit, bobot, dan bebet.. :smiley_beer: