June 20, 2008 at 1:22 pm
· Filed under Sastra
Telah lama, telah beberapa tahun, kukunci hati ini dan tak pernah terbuka, dan gagang pintuku tak pernah berkarat ataupun mengalami korosi sekalipun. Karena ia bukan terbuat dari besi, tapi terbuat dari gumpalan darah yang merekah tidak sempurna dalam tulang rusukku. Ia akan sempurna saat tulang-tulang rusukku telah lengkap berada dan menyatu. Kesempurnaan itu ada di dalamnya.
Aku tahu kemana harus kumenyempurnakannya, tapi kuharus menunggu, menunggu selama lebih satu dekade. Read the rest of this entry »
Permalink
June 20, 2008 at 1:21 pm
· Filed under Sastra
Aku berjalan pagi sekali, terlalu pagi hingga bila ditanya apa yang kulakukan pada saat itu maka akan kujawab: “Tidak ada!”.
Hatiku resah, pikiranku melayang, jiwaku gundah sehingga aku merasa hampa untuk melakukan sesuatu apapun. Aku tidak tahu apa dan bagaimana aku ini, dulu dan sekarang telah mengubah semua hidupku, penyesalan menjadi sebuah permainan hidup, tertekan akan beban menjadi sebuah suratan takdir dan keputusasaan menjadi sebuah bahan tertawaan. Cita dan cinta telah tidak saling menyatu lagi, semangat hanya menjadi sebuah permusuhan hidup. Ketidakadilan telah menjadi tradisi. Semua, telah berubah dan sebagai kata-kata penghibur adalah : “Jangan terlalu berharap!”. Read the rest of this entry »
Permalink
June 18, 2008 at 7:46 am
· Filed under Sastra
Begitu lama aku mengulur waktu hanya untuk menanti jawabmu bagaimana dan apa yang harus kulakukan tergantung dari jawabmu saat ini. Aku begitu menghargaimu sebagai yang mengerti aku dan tahu siapa aku yang aku sendiri tidak tahu. Tetapi seakan dimakan waktu kau pergi dan datang dengan membawa perubahan yang tidak kuharapkan. Sobat kecilku yang manis dan tidak dihargai _ kita berbeda _ dan salam
terakhir menjadi sebuah tanda tanya _ kapan sebenarnya kita berpisah? Read the rest of this entry »
Permalink
June 17, 2008 at 6:56 am
· Filed under Sastra
Jarak telapak tanganku denganmu hanya setipis kertas tetapi setipis kertas itu malah menjadi tembok berlin bagi kita berdua.
***
Mungkin itulah yang sering terjadi dalam diriku sebagai sesuatu anugerah dan aku mensyukurinya. Seperti yang kuungkapkan barusan, aku hanyalah topeng bandit yang berangan untuk membuka semua topengku yang tanpa sadar akan menjadi aib bagiku. Read the rest of this entry »
Permalink